Contoh cerpen singkat

Bayar Waktumu
Kriiiiiiiiingggggg...
Alarm berbunyi mengagetkan Andi yang baru saja tertidur pulas, setelah baru saja memejamkan mata beberapa jam yang lalu, tidak sampai membuka mata Andi merasa emosi, lalu membungkan telinganya dengan bantal yang dia buat sandaran kepalanya. Dan menggerutu di dalam hatinya.
“ Ya ampuuun apaan siih, brisik banget ganggu orang tidur aja, “
Andi merasa terganggu akhiranya dia memalingkan badannya dari sumber suara dan merasa lebih nyaman dengan posisinya sekarang. Sambil menekan bantal dari masing-masing ujungnya dengan kedua tangannya yang teramat kaku dan kasar itu.
Setelah sekian lama merasa nyaman tantram tanpa bisingan suara alarm itu, kedua tangan andi semakin melemas tanpa daya, tanpa gaya. Sedikit demi sedikit bantal yang awalnya sebagai penutup telingnya kemudian mulai mekar melebar nan bercerai. Dan suasana semakin hiruk tatkala beradu antara kenyamanan dan keterkekangan, membuat telinga terbising, hati ombang-ambing, hidung berdesah, mata terbuncang, kulit mengkerut, seakan seluruh jiwa yang dekat akan mortalitas raga memberontak, merasa malas untuk bangun dari tidurnya.
Bergetar sadis bagai gempa menerpa daratan, membelah lempengan, menggulung lautan. Alarm itu membuat Andi semakin jengkel, dan alhasil Andi membuka mata dan mengucapkan sesuatu sebagai tanda ekspresi emosinya yang sedang meluap-luap.
“ Ya ammpuuuuuunnn apa nggak tau apa kalau lagi enak-enak tidur, ini malah (sambil memegang alarm tua itu) ganggu orang tidur aja, ( sambil memutar-mutar jam arkais itu untuk mematikannya ) gimana sihh, ini apaan lagi dari tadi buat sebel orang aja.”
Beberapa detik kemudian alarmpun berhenti berdering alias mati. Begitu cepat Andi melepas alarm itu di sampingnya dan kembali lagi untuk meneruskan tidurnya, seraya terpicing dan meraba-raba bantal yang ia buat bantalan tadi dengan menepuk mesra. Berdesus letih tanpa menghiraukan apapun disekitarnya.
Kriiiiiiiiiiiiingggggg...
Matanya terbelalak, merah merona, berotot kriting, berbinar-binar, tak usah lama-lama si andi mengambil alarm itu, lalu melemparkannya ke lantai dan hilanglah suara berisik itu alias mampus.
“Haaaaaaaahhhh...(Andi mengambil alarm yang masih hidup itu dan dibuang) dasar alarm eror, nyala nggak tau posisinya, nggak tau nih kalau lagi enak-enaknya mimpi, malah dibangunin, jadi kepotongkaaan!!!”
Diaaaaaaaaaarrrr...
Tercabik-cabik setelah sekian terhantam ubin lalu kedua kalinya secara langsung mencambuk tembok, semakin tak berdaya lagi alarm tercerai berai kelantai, semrawut, brutal, tanpa aturan, terkoyak rincis, seperti terlerai samurai.
Andi kembali tidur lagi, tidur lagi, dan tidur lagi. Merasa sudah terganggu menjadi majal hatinya, lupa akan daratan, lupa akan ruang dan waktu, fatamorgana terus ia upayakan laksana kehausan di tengah-tengah padang pasir. Tidurpun menjadi- jadi semua apa yang di sekitarnya dibuatnya sebagai tutup untuk menutupi seluruh badannya. Merasa balas dendam ia lapisi lagi dengan seprai, alas tidurpun ia jadikan selimut.
“Ahhhhhhh.. masa bodoh tidur lagi ahhh...”
Detik waktu terus berjalan bagai hiasan malam, apa daya lambat laun waktu terus berjalan sampai kepada jam 07.00 WIB, waktu terus berputar kian matahari menyambut gembira dengan semangat bersinar terang, mengeluarkan panasnya, semakin panas sinarpun mengeluarkan jurus bidasnya melewali jenjela transparan tanpa tirai, tanpa sehelai benang ia jumpai. Semakin ganas semakin sembrono, kemudian jurus selanjutnya ia keluarkan yaitu jurus panas konduksi, perlahan tapi pasti benda padat yang berhadapan dengannya ikut tergiring, menyatu padu panas yang kian energik itu. Menyelam lebih dalam sampai kekedalaman tajam, menyerbu sehelai demi helai kain yang terbingkai dalam sebuah seprai lembut yang andi gunakan untuk mendengkur lemah gemulai. Sedikit menggeliat andi merasa kepanasan oleh sinar UVA dan UVB yang kasat mata itu, ia hanya dapat merasakan pergolakan yang terjadi antara matahari dan selimut yang membayang-bayangi kulit kusamnya.
Sssssssssssst...sssssssssssssst....
Suara seprai menggesek kulitnya karena andi menarik kain itu dengan paksa untuk menutupi menghalangi cahaya sekaligus panas yang menyerang wajahnya. Pancalan kakinya sedikit meleset mengenai seprai, karena seprai tadi ia tarik buat penutup kepala.
Duuuuuuuugggss....
“Adauuuuuuu... sialan (sambil mengelus-elus tumit kaki kirinya yang terhantam sudut ranjang) aduuuuuhhhh sakiiit (terus menggerutu, semakin pelan semakin berkurang rasa sakit itu)” emmmemmmemmmemmm...tretektektek... (berdesis pelan dengan menggesekkan geraham atas dan bawahnya).
Tanpa disadari apa yang ia ucapkan, apa yang terjadi kala itu, dengan kondisi ngantuk total layaknya tupai berhibernasi selama musim dingin, jiwanya tidak terkontrol sedikitpun. Setelah itu membaringkan tubuhnya pada posisi terlentang lepas tanpa penutup apapun, jhkecuali selimut atau seprai yang ia gunakan, itupun terlepas dari wajah dan kakinya, yang ada hanya ikatan kecil di sekitar pinggangnya.
Biyuuuuuuurrrrr......biyuuuuuuuurrrrr... “waw segar sekali air ini, ternyata enak ya mandi pagi, membuat badan menjadi segar, fres kembali menyehatkan tubuh lagi.. ooooooo mancaaaapppp kalii. Beeeeeeerrrrrr  dinginnyaaaa minta ampun, busyeeeettt” (andi yang sedang lagi menyikat giginya), duk duk duk ..(hentakan kaki menggoyangkan air dalam bak mandi ukuran 1 m2 itu). Biyuuurrr... biyuuuurrr “mantap jiwaaaa” (siraman Andi yang terakhir segera ia keringkan dengan handuk tebalnya, karena merasa sedikit menggigil handuk itu di selimutkannya di sekeliling pundak dan lehernya). Kemudian andi merasa sudah bersih, bergegas memakai pakaian yang tergantung didinding putihnya, yang beberapa hari terakhir lamanya pakaian itu belum dicuci, belum terbilas air suci. Mensegerakan Andi untuk berangkat pagi-pagi sekali, karena hari itu juga akan diadakan UAS (ujian akhir semester) pertamanya.
Mungkin menurut Andi itu adalah hari terbaik, hari yang tidak mungkin dia lewatkan, hari dimana sebagai penentu masa depan lewat bangku perkuliahan favoritnya itu, dengan mengikuti ujian mata kuliah yang diampu oleh dosen sangat killer, dosen yang identik dengan galak, jutek, pelit nilai, banyak tugas dan sebagainya. Menjadi momok bagi para mahasiswa di kampusnya.
“Wah hari ini aku degdekan banget, gmana ya nanti soal ujiannya..sulit nggak ya??? Apa jangan-jangan mudah.. ahh nggak pentinggg.. nanti kan bisa lihat jawaban temen, santai aja..” (dalam sanubari ia berkata).
Dengan gayanya yang sok akrab itu serasa memihak teman-temannya agar ikut serta dalam suasana dirinya, sehingga nantinya temennya itu mau memberi jawaban kepadanya. Siasat demi sisat ia lakukan, derama ia lakonkan, narasi ia lantunkan.
Kemarahan sang mentari kian membara bak laksana ibu kos, sinarnya tajam setajam belati. Kian mendekati equator bumi, tak ada celah untuk sembunyi. Kini ia menjelma menjadi bulan, panasnya tertangkis awan tak terlihat lagi wajahnya yang rupawan, sejenak heran dan menghentikan pencaharian. Ternyata sekedar hanya ilusi semata, hanya melintas sekejap mata.
Waktu menunjukkan pukul 10. 00 WIB.
Dooor dooor dooor... “Andiiii, bangunnnn, mana uang yang kau janjikan seminggu yng lalu???.. Woi udah jam berapa ini? Masiiih tidur aja,, jangan pura-pura lupa yaa??? Andiii...” Dooor doooor doooor...
Ternganga, terkaget-kaget, terperanjat dirinya seakan ia masuk kedimensi lain. Dengan sontak membuka kedua matanya, jiwa yang kini masih dibawah alam sadarnya ia pun tidak menyangka, tidak mengira, tanpa dugaan. Dan sesungguh ia baru menyadari kalau ia masuk kedalam fantasi belaka alias angan-angan yang membayang-bayangi ia mengikuti ujian sampai ke dalam mimpinya.
Andi tak sadar apa yang ia lakukan, termasuk alarm yang ia buang pagi tadi. Ia pun bangun dan kerjalan mendekati pintu dengan keadaan tergesa-gesa karena ia teringat harus bangun pagi untuk kuliah dan mengikuti ujian.
Jeduuuuuuaaaakkkkkkk... “Adaaaaaauuuhhhhh sakiiit, toloooong siapapun tolong akuuu.. aduuuhhhh aduuuuh aduuuhh”
“Heiii kamu kenapa ndii, jangan pura-pura drama di belakan aku yaa,, sini keluar bayar tunggakan kamu!!!” Doooor dooor dooo.
“Aduuuh aduuuh tolooong akuu!!!
Mendengan teriakan Andi beberapa kali, ibu kos merasa iba dan tanpa pikir panjang ia langsung membuka pintu yang tak terkunci itu.
Masyaallahhhhh, apa-apaan ini kamar apa gudang? Berantakan semuanya..pokoknya habis kau obati lukamu itu, bersihkan kamarmu, dan jangan lupa kau lunasi hutangmu... pokoknya aku tak mau tau urusanmu.. permisi.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Andi hanya termenung diam menyesali perbuatan sia-sia itu.

Comments

Popular posts from this blog

Adat Jawa pernikahan anak terakhir: Buntot-buntot lawe (Pak punjen)

Esai tentang pernikahan dini

Aktualisasi pancasila