Pancasila sebagai religiositas negara

Beda Agama Satu lndonesia
Masyarakat indonesia gandrung akan perbedaan yang menjadi ciri has lain, inilah yang menjadi pertanyaan kenapa bangsa asing sering menyinggung akan hal ini. Baik perbedaan keyakinan, kebudayaan, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik dan lain-lain. Justru inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat indonesia, karena indonesia adalah negara kepulauan terbanyak di dunia, yang memiliki keaneka ragamaan hayati dan kekayaan lain yang jarang dimiliki bangsa lain. sama halnya  kepercayaan/keyakinan dalam beragama, secara lndonesia bukan negara yang memikili agama resmi.
Pada hakikatnya perbedaan yang demikiaan akan menimbulkan konflik, akan tetapi kenyataanya inilah sebenarnya terbantah dan terbukti akan pengamalan pancasila pada sila pertama yang secara empiris adalah sebagai dasar dari ke empat sila berikutnya. Dengan adanya ketuhanan Yang Maha Esa, artinya masyarakat secara individu yang berketuhanan satu dan melaksanakan syariat-syariat sesuai kepercayaan masing-masing. Melihat daripada itu sifat toleransi beragama lebih dikedepankan sebagai pentuk pengamalan pancasila, yaitu saling menghormati, menolong dan prihal kebaikan lainya dengan batasan keakidahan.
Polemik masyarakat rasanya sudah terjawab dan terpelihara akan adanya Pancasila sebagai religiostis negara, karena Indonesia adalah negara tanpa penindasan yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Meskipun kadang terjadi perpecahan, dan sebagai rasa hormat kita adalah satu, kemerdekaan tanpa perpecahan yang selarasnya termaktub dalam Pancasila itu akan adanya kebutuhan, kekuatan, dan persatuan senasib yang menjadi pemersatu bangsa indonesia, artinya dari perbedaan ada persamaan. 
Pada dasarnya nilai-nilai pancasila ditemukan secara penuh ada pada nilai agama, karena dengan keyakinan yang mendasar maka akan menjadi intisari dari berbagai pemikiran/ideologi lainya. Sepertihalnya ketuhanan itu meruang lingkupi dari sila lain tentang kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Comments

Popular posts from this blog

Adat Jawa pernikahan anak terakhir: Buntot-buntot lawe (Pak punjen)

Esai tentang pernikahan dini

Aktualisasi pancasila